Mengamati Patwal
Pup pup tot tot.
Suara itu lagi. Patwal membelah jalanan Jakarta sore hari. Tanpa komando, kita semua tau harus ngapain. Motor merapat ke pinggir, mobil nyari celah yang tadinya gak ada jadi ada. Gue ngeliat semua ini dari motor, terjebak antara panas dan lembab udara yang nempel kayak handuk basah. Jam 5:30 sore, menu spesial Jakarta: bau knalpot, panas mesin, suara merdu klakson-klakson yang artinya "minggir" sekaligus "gue gak bisa minggir."
Keringet peliket di badan. Helm berasa kayak kukusan bakpao. Dikombo sama cape abis 9 jam pura-pura kerja, sambil beneran kerja.
Sirine itu masih berbunyi. Pup pup tot tot. Patwal. Suara kekuasaan. Dan entah kenapa — mungkin karena kepanasan, mungkin keracunan asep, mungkin pala gue lagi cari pelarian — gue kepikiran sesuatu yang aneh.
Authority. Otoritas. Kata yang kita pake buat orang-orang yang minggirin kita ini. Di dalam kata Authority, ada kata "author" …
Penulis?
Aneh gak? Kayak pas kita kecil nyadar di dalam "emergency" ternyata ada "emerge", atau di dalam "Indonesia" ada "done".
Tapi yang ini nyantol. Author. Authority. Gue bolak-balik mikirin ini selagi rombongan pejabat itu lewat — Pajero hitam, Alphard kinclong, Semua kaca filmnya gelap, isinya orang-orang yang mukanya mungkin gak pernah kita liat, tapi jalannya selalu kita bukain.
Emangnya dia nulis apa sih? Pejabat itu? Buat bisa dibilang otoritas? Presiden kita, menteri kita, anggota dewan kita — apa yang mereka author sampe mereka bisa kita sebut authority?
Belajar Lewat Keheningan
Besok paginya, gue masih mikirin itu. Author. Authority. Hubungan antara kepenulisan sama kekuasaan.
Terus gue liat kejadian di lift.
Lo tau kan yang kita semua lakuin? Pintu lift terutup, hening mendadak, lima-enam orang dalam box besi. Dan tiba-tiba HP masing-masing jadi benda paling menarik. Semua orang auto cek HP. Buka Chat WA urgent yang sebenernya gak urgent-urgent banget. Liatin Insta story orang yang dia gak inget pernah follow. Ada juga yang scrolling Shopee padahal jelas-jelas gak belanja apa-apa.
Gak ada yang nulis tuh tentang aturan "Menghindari Kontak Mata di Ruang Sempit: Panduan untuk Perkantoran Modern Indonesia." Tapi kita semua ngelakuin itu dengan sempurna.
Aturan tak tertulis ada di mana-mana. Grup watsap keluarga yang punya hierarki soal siapa boleh kirim apa, kapan. Sepupu gue pernah kirim video lucu tepat setelah tante paling tua share doa pagi. Hening grup setelahnya terasa lebih keras dari omelan langsung. Di situ mungkin sepupu gue belajar. Kita semua belajar. Lewat keheningan, lewat pola, lewat kekerasan halus di-read doang.
Kode yang Tidak Ditulis
Siang itu gue scrolling Twitter sambil makan. Gue nemu thread orang nge-quote screenshot Google review tempat spa: "Dateng buat pijet tapi malah ditawarin petik mangga? Perasaan spa-nya gapunya kebun mangga deh."
Reply-nya penuh emoji ketawa. "Mas bro dateng buat ngobatin pegel-pegel malah ditawarin kegiatan pertanian😭"
Bikin gue mikir — kapan sih kita semua belajar kode ini? Perasaan gak ada yang kirim broadcast chat: "Kepada Seluruh Warga Jakarta, 'petik mangga' artinya adalah jasa khusus yang melibatkan gerakan… memetik mangga." Tapi somehow semua pada paham. Sama kayak gimana rangorang paham emoji 🙏 artinya beda-beda tergantung konteks. Gak ada tuh buku "Panduan Resmi Semiotika Emot 🙏". Kita sepakat tanpa rapat.
Kayak kalo lu di cafe, semua orang tau meja mana buat buka laptop, mana buat ngobrol. Padahal gak ada tandanya.
Sama kayak sense timing presisi lo di kantor: kapan bisa pulang tanpa keliatan gak solid — 4.59 sore itu gak kompak, 5.01 yah accetable lah, 6.00 itu "Calon Direktur."
Ada lagi bagaimana kita semua bisa ngerti ketika orang ngomong "nanti saya kabarin". Sebuah kalimat cantik yang maknanya "Biar cepet kelar dan gue terlalu sopan buat nolak langsung."
Siapa yang nulis aturan-aturan ini? Siapa author dari authority yang kita patuhi?
Diri yang Terpecah-Pecah
Kadang gue gitu juga.
Kayak gue pernah pas scrolling Instagram, nemu video cewek joget pake kemben doang. Reflek pikiran gue ngejudge, kayak "murahan, caper", tapi jempol gue diem aja ga lanjut ngescroll, pupil mata gue nge-zoom goyang pantatnya. Rasanya aneh, campuran antara mau ngatain dan… mau.
Kadang juga gue di twitter suka ngetweet yang berat-berat— tentang sesuatu yang beneran gue pikirin. Abis itu gue baca ulang tweetnya, gue perhatiin. Terus gue delete. Terlalu cheesy. Terlalu edgy. "Orang-orang" bakal judge. Tapi siapa "orang-orang" ini?
Yang kayak gitu-gitu juga pernah gue alamin juga di kehidupan nyata. Waktu temen gue lagi nyoba deketin cewek dengan cara yang jelek banget. Gue ngerasa painful bgt dengerin doi curhat. Terus gue baca chat doi ke cewenya — anjir men. Dia sering double text, terus suka bales terlalu cepet, parahnya lagi doi selalu overthinking kalo chatnya di-read doang. Kata gue, "Stecu aja brader, Stay Cool," gue nasehatin temen gue. Seolah kayak paling jago aja ini diri gue, si paling dating coach jam terbang tinggi.
Ada juga tetangga gue yang punya knalpot barong — BROONG BROONG — suara knalpotnya lewat tiap malem keras banget ampe kaca kamar gue geter. Gue yang lagi rebahan di kasur langsung nyumpahin dia kecelakaan maut karena ngelanggar aturan polusi suara, padahal gaada tuh aturan kayak gitu. Seolah kayak gue gak pernah nyanyi-nyanyi, teriak-teriak ganggu tetangga.
Keluarga besar gue juga gitu. "Cukur dong kumis sama jenggotnya." Kalimat yang selalu gue denger tiap acara keluarga. Banding-bandingin gue sama sepupu sukses yang clean-shaven. Dan bukan cuma komentar langsung — pernah juga tiba-tiba ada yang ngeforward artikel di grup watsap "grooming profesional."
Cara halus mengomunikasikan ketidaksetujuan tanpa bilang "kami tidak setuju."
Dua Versi Diri
Makin sini gue makin mikir bahwa ini eksistensi kita ini ternyata kebelah-belah juga yak. Misal, ada prinsip populer bahwa baiknya kita "jangan pikirin omongan orang", tapi di sisi lain kita juga seakan-akan ngomong "mari kita diam-diam mikir buat orang lain." Menurut gue, bukan berarti kita nge-fake sih — tapi kayaknya kita beneran jadi versi yang berbeda-beda tergantung kebutuhan.
Contohnya tahun lalu gue pernah nonton jazz di bar Jaksel, ada mas-mas di sebelah gue lagi buka laptop sebelum show, dia lagi nonton online course sambil nyatet. Karena penasaran, gue tanya lagi belajar apa. "Makroekonomi" ceunah. Terus gue ajak ngobrol, taunya ternyata dia asset manager — kerjaannya mindah-mindahin duit perusahaan, mikirin portofolio yang pas, nyocokin sama kondisi ekonomi negara. Vibe-nya konsultan bgt, very serius, ngajarin gue cara prediksi pasar uang dan manajemen resiko. Yah gue nangkep dikit-dikit lah.
Terus pas show dimulai. Dia nutup laptop, naik ke panggung, terus megang drum. Anjir ternyata doi drummernya, cok.
Orang yang sama. Kadang jadi asset manager yang kerjaannya ngitungin yield curve. Kadang jadi dummer jazz yang kerjaannya improvisasi gradak gruduk. Gokiil.
Jadi yang mana yang "asli"? Atau jangan-jangan dua-duanya asli?
Otoritas yang Kita Tulis Bersama
Oke, balik lagi ke yang bikin gue mikirin ini semua. Patwal di jalanan.
Dulu gue pernah belajar linguistik, etimologi. Dosen gue bilang kata-kata yang akarnya sama kadang punya akar-makna yang sama juga.
"Authority… Author." Kekuasaan untuk memerintah dan kekuasaan untuk menulis — ya ada aja sih nyambung-nyambungnya.
Tapi coba tarik ke belakang, jaman dulu siapa yang punya authority? Mungkin orang yang biasa nulis? Coba inget dulu di Eropa, Pendeta pernah monopoli kitab suci — cuma mereka yang bisa baca injil, jadi cuma mereka yang bisa bilang Tuhan ngomong apa.
Pemilik Tanah pegang akta. Raja bisa ngeluarin titah. Dulu tuh kegiatan kepenulisan (authorship) punya bobot kekuasaan karena nulis itu bikin sesuatu jadi resmi, permanen, nyata.
Tapi liat sekarang. Patwal yang minggirin kita — apa sih yang ditulis pejabat itu sampe bisa bikin kita nurut? Pejabat tertinggi kita yang katanya skripsinya aja plagiat. Mana author-nya dalam authority kita?
Bentar… Coba pelan-pelan. Apa yang bikin pejabat punya power? Bukan badan mereka, bukan suara mereka, bahkan bukan ide mereka. Tapi dokumen. Konstitusi. Undang-undang. Peraturan. Kata-kata di atas kertas yang kita sepakat untuk anggep nyata. In a way, Authority mereka literally dari tertulis sih — cuma bukan tulisan mereka sendiri aja.
Oke, jadi authority masih dari berangkat dari authorship. Cuma mungkin bukan kegiatan kepenulisan, yang kaya, literally nulis nuangin ide ke kertas.
Oke, kalo itu bener — kalo lo bisa punya authority tanpa beneran nulis — gimana dengan kita?
Hadis dan Kepatuhan Kolektif
Ada hadis yang suka beredar di kalangan muslim: "كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ" — Kamaa takuunu yuwalla 'alaikum — sebagaimana kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atas kalian. Dulu gue pikir ini hadis maknanya tentang akhlak masyarkat yang tercermin di pemimpinnya, kayak semacam hukuman semesta.
Tapi sekarang gue mikir, bisa jadi maknanya lebih literal lagi. Bahwa kita bakal dikasih pemimpin yang kita tulis. Authority yang kita author lewat kebiasaan dan pilihan-pilihan kecil sehari-hari.
Tiap kali kita minggir buat patwal tanpa, ngejudge orang di instagram, ngatur gaya pacaran temen, nyari bahan olokan di tongkrongan. Kita gak cuma ngikutin authority. We're actively creating it. Menuliskannya sampai dia jadi permanen untuk hari esok dan seterusnya.
Kita semua ghostwriter. Dan apa yang kita tulis secara kolektif, lewat jutaan aksi kecil tiap hari, adalah realita yang dikuasai otoritas saat ini.
Pemerintah gak perlu bikin undang undang pengawasan ideologi kalo kita udah ngawasin satu sama lain secara gratis. Mereka gak perlu enforce standar budaya kalo kita udah enforce ke lingkungan kita sendiri.
Capeknya Struktur
Kalo lo perhatiin, bakal keliatan bahwa kita semua tuh sebenernya capek. Di balik makeup, di balik senyum ramah, di balik mental baja. Tulang-belulang dalam tubuh ini lelah menyokong struktur. Capek ngawasin diri sendiri, ngejaga aturan di lingkungan, authoring these authorities.
Dan sebenarnya, kita bisa aja berhenti. Kita semua bisa aja… enggak begitu. Gak minggir buat patwal. Gak nurut sama kekuasaan. Gak diem aja kalo ada yang aneh. Gak jadi polisi untuk hidup orang lain.
Tapi kita gak kayak gitu.
Apa yang Kita Tulis?
Jadi kembali lah gue ke atas jalan raya Jakarta di kala rush-hour. Macet-macetan lagi. Hari-nya beda, panas dan pegelnya sama. Terus ada Patwal mau lewat lagi.
Pup pup tot tot.
Walaupun kali ini kita semua tetap minggir. Tapi ada hal berbeda yang gue rasain. Selagi gue tontonin fenomena ini, gue mikir: Oke, sekarang kita semua ngelakuin ini lagi. Authoring their authority dengan kepatuhan kita.
Pup pup tot tot.
Suara yang mulai semua tulisan ini. Suara yang ngingetin gue siapa kita sebenarnya. Apa yang kita lakuin dengan dan tanpa sadar. Siapa yang kita tulis untuk jadi pemimpin kita.
Besok gue bakal lakuin lagi. Tapi mungkin gue bisa lakuin semuanya dengan sedikit lebih sadar.
Apa sih sebenernya yang kita mau ciptain bareng-bareng?
Mungkin kita bisa menuliskan kekuasaan yang melayani bukan menindas, yang nyambungin bukan ngebelah.
Author. Authority.
Kita yang nulis cerita ini. Kita selalu minggir buat mereka. Tapi mungkin kita bisa pilih, kita lagi minggir ke arah mana?