← Prosa

Novel Indonesia Tidak Perlu Sempurna

5 Oktober 2025

Ketika Dee Lestari "Gagal" Mengikuti Resep Hollywood

Tahun 2003, novel Akar karya Dee Lestari masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award. Tapi tahukah Anda? Kalau diukur dengan teori perjalanan pahlawan Joseph Campbell — resep yang sama yang dipakai Star Wars, Harry Potter, hingga film-film Marvel — novel ini "gagal" memenuhi formula sempurna. Dari 17 tahap yang seharusnya dilalui seorang pahlawan, Bodhi, tokoh utama Akar, hanya melewati 13.

Apakah ini benar-benar sebuah kegagalan? Atau justru Dee sedang menunjukkan sesuatu yang lebih penting — bahwa sastra Indonesia tidak perlu tunduk 100% pada formula Barat?

Formula 17 Tahap yang Menguasai Dunia

Sebelum kita bicara soal Bodhi, mari kenalan dulu dengan Joseph Campbell. Tahun 1949, akademisi Amerika ini menulis buku The Hero with a Thousand Faces yang mengklaim: semua cerita pahlawan di dunia mengikuti pola yang sama. Dari Rama dan Sinta, Odysseus, hingga Luke Skywalker — semuanya melewati 17 tahap perjalanan yang identik.

Tahap-tahap ini seperti resep masakan:

- Pahlawan menerima panggilan bertualang - Awalnya menolak - Bertemu mentor yang memberi senjata ajaib - Masuk dunia baru penuh bahaya - Menghadapi musuh besar - Mendapat hadiah/trofi - Pulang membawa hadiah untuk kampung halaman

Hollywood mengadopsi formula ini mentah-mentah. George Lucas bahkan mengaku Star Wars sengaja dibuat mengikuti template Campbell. Hasilnya? Box office miliaran dolar. Tak heran, formula ini jadi "kitab suci" para penulis skenario dan novelis di seluruh dunia.

Bodhi: Pahlawan Punk yang Tidak Butuh Pedang Excalibur

Sekarang mari kita lihat Bodhi, protagonis Akar. Anak yatim piatu yang dibesarkan di wihara, punya kemampuan supernatural yang malah menyiksanya — bisa melihat lapisan kuman dalam bakpao, merasakan ketakutan hewan kurban, bahkan rohnya pernah "masuk" ke tubuh lalat.

Di usia 18, Bodhi memutuskan berkelana ke Asia Tenggara. Bukan untuk mencari harta karun atau menyelamatkan dunia, tapi untuk mencari… apa? "Tujuanku yang sesungguhnya adalah perjalanan itu sendiri," kata Bodhi.

Bandingkan dengan Harry Potter yang harus mengalahkan Voldemort, atau Frodo yang harus menghancurkan cincin. Mereka punya misi jelas dengan hadiah konkret di ujung perjalanan. Bodhi? Dia bahkan tidak tahu apa yang dicarinya.

Dan di sinilah letak kejeniusan Dee Lestari.

Empat Tahap yang "Hilang"

Penelitian terhadap Akar menunjukkan ada empat tahap Campbell yang tidak muncul dalam perjalanan Bodhi:

1. The Belly of the Whale (Perut Ikan Paus)

Dalam formula Campbell, pahlawan harus mengalami semacam "kematian simbolis" dan "kelahiran kembali" — seperti Yunus dalam perut ikan paus. Transformasi harus dramatis, instant, revolusioner.

Tapi Bodhi? Transformasinya gradual. Lima bulan di Belawan, kemampuan supranaturalnya pelan-pelan mereda. Tidak ada momen dramatis "mati dan lahir kembali." Ini lebih mirip konsep Buddhism tentang pencerahan bertahap, bukan satori mendadak.

2. The Ultimate Boon (Hadiah Utama)

Di mana pedang Excalibur-nya Bodhi? Mana ramuan keabadiannya? Tidak ada. Setelah bertualang ke Thailand, Laos, Kamboja, apa yang Bodhi bawa pulang? Dua liontin berisi abu kremasi Guru Liong dan Kell. Bukan harta, bukan senjata, bukan kekuatan super. Hanya kenangan.

Dalam filosofi Timur, ini masuk akal. Pencapaian tertinggi Buddhism bukan mendapat "sesuatu," tapi justru melepaskan keinginan akan "sesuatu." Bodhi mendapat pencerahan saat menghisap ganja di ladang Golden Triangle: "no where" (tidak di mana-mana) berubah jadi "now here" (sekarang di sini). Permainan kata yang simpel tapi profound — kebahagiaan bukan di tempat tujuan, tapi di momen sekarang.

3. Refusal of the Return (Penolakan untuk Pulang)

Campbell bilang, pahlawan biasanya enggan pulang setelah mendapat hadiah. Tapi Bodhi tidak pernah menolak pulang — dia bahkan tidak sadar kapan petualangannya "selesai." Tidak ada batas jelas antara dunia petualangan dan dunia normal, karena bagi Bodhi, semua adalah perjalanan.

4. Crossing the Return Threshold (Menyeberangi Ambang Pulang)

Pahlawan Barat harus melewati gerbang dramatis untuk pulang. Bodhi? Tahu-tahu sudah di Jakarta, bercerita ke anak-anak punk. Tidak ada upacara, tidak ada portal magis. Karena dalam worldview Indonesia, batas antara yang sakral dan profan, yang magical dan mundane, memang tidak sejelas dalam pikiran Barat.

Kell Bukan Goddess, Dia Kalyana-mittata

Yang paling menarik: dalam skema Campbell, pahlawan harus bertemu "Goddess" — figur wanita yang menjadi objek cinta. Tapi di Akar, yang memenuhi fungsi ini adalah Kell, seorang pria.

Kell mengajari Bodhi seni tato untuk bertahan hidup. Hubungan mereka intim tapi bukan romantis. "Kamu adalah kemerdekaanku," kata Kell pada Bodhi. "Tugasku menabur. Tugasmu berakar."

Dalam Buddhism, ini disebut kalyana-mittata — persahabatan spiritual. Buddha bahkan bilang, kalyana-mittata bukan setengah dari hidup spiritual, tapi keseluruhannya. Hubungan yang melampaui romantisme, melampaui seksualitas, melampaui kategori-kategori Barat.

Dee tidak gagal memahami Campbell. Dia memilih memodifikasinya.

Manifesto untuk Sastra Indonesia

Pramoedya tidak mengikuti struktur novel Eropa klasik, tapi tetap dibaca dunia. Ayu Utami melanggar linearitas naratif konvensional, tapi Saman tetap fenomenal. Eka Kurniawan mencampur realisme magis García Márquez dengan cerita silat Kho Ping Hoo, dan kritikus internasional terpukau.

Pesan Akar jelas: Sastra Indonesia tidak perlu skor 17/17 dalam ujian Campbell. Yang penting bukan kesempurnaan menurut standar asing, tapi kejujuran terhadap cerita yang ingin kita sampaikan.

Bodhi sendiri menutup petualangannya dengan filosofi yang sangat Indonesia:

"Hidup ibarat memancing di Kali Ciliwung. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan kamu dapat. Ikan, impun, sendal jepit, taik, bangkai, dan benda-benda ajaib lain yang tak terbayangkan."

Mungkin itulah yang perlu kita ingat. Dalam menulis, seperti dalam memancing di Ciliwung — kita tidak perlu mengikuti manual memancing dari Amerika. Yang penting kita tahu sungai kita sendiri, dengan segala impun dan sendal jepitnya.

13 dari 17 itu cukup. Asal 13 poin yang tepat untuk cerita kita.

*Catatan: Analisis ini berdasarkan penelitian akademis terhadap novel Akar menggunakan teori Hero's Journey Joseph Campbell, dengan interpretasi kontekstual Indonesia.*