← back
Subandi lahir di kubangan
baru berojol ia sudah hisap batang rokok
merah darah di badan bayinya tertutup kebulan tembakau
 
Begitu pun ia setelahnya
Filter ia emut bagai puting emaknya
Putih susu bertukar-tukar dengan putih asap
di umur tiga ia sudah fasih berbicara
kalimat pertamanya adalah "bangsa ini bangsa terkutuk"
ketika ditanya "dikutuk siapa?"
bukannya menjawab ia malah merengek minta dikelon
 
Subandi belajar jalan umur lima
ia mengitari kota malam-malam sambil bawa minyak dan korek
"biar bisa langsung bakar kalo ada penjahat" begitu katanya
 
kaki kecilnya menyusuri trotoar yang sempit
sambil menikmati raung knalpot ia bersenandung
lagu-lagu perjuangan
malam itu tak ada penjahat di kota,
jadi minyaknya dan koreknya ia gunakan untuk membakar
mobil pajero yang diparkir sembarangan
 
subandi itu temanku, temanmu juga
inget ga? waktu smp dia pernah koprol sambil
telanjang di panggung wisuda
 
dia orangnya dekat dengan api
 
waktu sma ia pernah membakar buku madilog, dan
abunya ia seduh dengan metode V60
kemudian dengan nikmatnya ia menyeruput sambil
nungguin waktu tahajud
 
subandi berhenti merokok ketika masuk kuliah, dan
bunuh diri ketika dapat ijasah
karena suka kopi, ia mati menenggak robusta yang
dicampur sarin
 
dua tahun kemudian ditemukan binder tebal di
kamarnya, tersembunyi di balik plafon sampai
puluhan juta rupiah yang entah didapat dari mana
 
Binder itu penuh dengan coretan pikiran Subandi.
isinya berantakan, sulit dibaca lantaran tidak
koheren
namun ada seorang akademisi kurang kerjaan
meneliti tulisannya
ia menemukan banyak hal, tapi kesimpulannya
satu:
 
Subandi bilang "aku sangat puas dengan hidup."

Subandi

April 2019 · ID