← back
setelah ayahnya pensiun, Dedi jadi rajin pulang ke rumah untuk mengajak ayahnya bertanding catur
 
bagi Dedi, bentuk berbakti seperti itu memberinya kepuasan tersendiri. hampir tiap senin siang ia datang, membawa segelas panas kopi hitam dari starbucks padahal ia tahu di rumah selalu sedia kapal api. mereka duduk di teras rumah yang rimbun dengan tumbuh tumbuhan yang dirawat ibunya. mereka membuka papan catur dan bermain sekitar lima ronde sampai matahari sore menghangatkan suasana.
 
bagi Dedi, ayahnya ini sangat menyebalkan dalam permainan catur. kadang ayahnya bermain dengan sangat konservatif, menyusun bidak-bidaknya begitu rapih tanpa celah. namun kadang juga ayahnya membuat gerakan mengejutkan penuh resiko, yang membuat Dedi termenung lama memastikan kemungkinan-kemungkinan balasan.
 
papan catur selalu jadi medan perang panas yang membuat Dedi mengernyit berpikir, sementara ayahnya senyum senyum menjengkelkan. hal itu begitu sering terjadi sampai membuat Dedi tersadar akan adanya kesamaan pola antara cara ayahnya bermain catur dan membesarkan anak.
 
kadang Dedi terkesima dengan bagaimana ayahnya bisa mengajarkan begitu banyak hal tanpa bicara sedikitpun.
 
di waktu waktu itu Dedi selalu melupakan semua tetek bengek masalah hidupnya. hiruk pikuk tuntutan pekerjaan dan kerasnya kehidupan kota meredam ditekan lembayung gesek dedaun dan kekehan sialan dari mulut ayahnya.
 
bagi Dedi bentuk berbakti seperti itu memberinya kepuasan tersendiri,
setidaknya selagi ia masih bisa.

Dedi dan catur

September 2021 · ID